Tanpa Jeda

Mencintaimu jauh diluar kuasaku, mengingat aku yang tak akan pantas disandingkan denganmu.
Kamu yang membuat aku mampu berlaku seperti saat ini,
yang terlihat lebih menakutkan dan berbahaya ketika bersamamu,
namun akan anggun dan melunak saat bersama yang lain.

 Bukankah kamu istimewa,
 kuperlakukan dengan berbeda?
 Bukankah itu sudah cukup sebagai pertanda bahwa kamu lain dari yang lain.
 Mungkin tanda yang perbuat berbeda dengan yang lain,
 ah iya bukankah kamu tidak peduli.
 Peduli setan dengan hal semacam ini¿.
 Aku mulai lelah ketika menjelang tahun baru,
 kamu mampu mengganti posisi bintang dihatiku, masuk melalui ruang celah andromeda.

 Terlebih menjelang ujian, kenapa kamu begitu rajin?
 Memenuhi pikiran dan alam bawah sadarku. Ujian praktek segera tiba begitu juga mimpiku   tentangmu yang tak kunjung reda, hingga ujiannya selesai.
 Tphbs bukannya aku bisa tidur nyenyak dengan mimpi yang indah,
 lagi lagi kamu memenuhi pikiran menggeser segala deret hafalan dan barisan angka menyebalkan,
 kupikir aku berlebihan ternyata masih ada rasaku padamu yang terlampau ogah ogahan untuk reda,

 bukannya jera karena didera penolakan. Ia justru bergejolak membara saling bertautan memperkokoh singgasana didalam hatiku. Un tiba,
 kau tau hari pertama aku tak mampu menahan pesonamu, sebisa mungkin aku meredakannya dengan membicarakan lelaki lain.
Yang kuperoleh malamnya aku masih sama, memimpikanmu lagi, lagi dan lagi.
Hmm aktivitas yang mulai gila, memikirkan pria yang bahkan melirikku saja tidak. Menatap mataku saja jemu, ahh mulai lelah aku dengan sembunyi terus seperti ini. Kupikir ini akhir ternyata tak pernah berakhir, aku bisa merasa ada wanita lain yang mendambamu lebih dari aku.

 Aku tak ingin egois terhadapmu, tersadar aku tidaklah lebih dari sampah dimatamu. Berbicara denganku saja penuh dengan emosi dan ekspresi menggebu nggebu, mengingat hal itu hatiku berdenyut.
 Kau tahu aku sangat terluka untuk menerima bentakannmu, aku juga wanita dengan perasaan yang halus meski terlihat kasar diluar.
 Dulu saat kita satu kelompok entah apa aku lupa, astaga bagaimana bisa aku melupakannya.
 Intinya aku sangat menyukai tatapanmu yang mendamba, aku takut engkau memberikannya pada orang lain.

 Aku tidak rela, sangat tidak.
 Sebab engkau milikku, hanya milikku.
 Meski tidak pernah kuutarakan, aku berharap engkau membacanya.
 Meski saat itu pasti sudah sangat terlambat bagiku menyadari seberapa besar cintaku padamu.
 Kamu tidak pernah sendiri, aku juga mencintaimu.
 Kamu tidak perlu takut aku mengabaikanmu, sebab aku menjadi pusing terlalu memikirkanmu.


https://journal.uny.ac.id/
https://www.uny.ac.id/
http://library.uny.ac.id/sirkulasi/

Komentar